Saya ingin menceritakan pengalaman hidup saya sebelum masuk MEC. Sebelumnya, saya adalah seorang lulusan SMA yang masih bingung dalam menentukan arah masa depan.
Nama saya Afwa Langlang Buana, biasa dipanggil Afwa. Saya akan menceritakan satu tahun yang cukup berat sebelum akhirnya saya sampai di MEC. Perjalanan tersebut dimulai setelah saya lulus SMA, ketika saya memiliki rencana untuk melanjutkan kuliah di dekat tempat tinggal saya. Namun, rencana tersebut tidak jadi terlaksana karena kampus yang berada di sekitar tempat tinggal saya tidak memiliki jurusan yang saya inginkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak kuliah terlebih dahulu
Nama saya Afwa Lan
Dari Anak Pendiam Menjadi Seorang Yang Perecaya Diri: Pengalaman Pribadi Afwa
glang Buana. Jika saya melihat kembali perjalanan hidup saya, terutama perjalanan setelah lulus SMA, saya menyadari bahwa hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Terkadang, kita sudah memiliki keinginan, tetapi keadaan justru membawa kita ke jalan yang berbeda.
Terkadang kita merasa bingung, takut, tidak percaya diri, bahkan merasa tidak mampu. Namun, dari semua perasaan dan keadaan tersebut, ternyata ada banyak pelajaran yang dapat membuat kita menjadi lebih kuat.
Perjalanan Afwa Setelah Lulus SMA
Perjalanan saya dimulai ketika saya lulus dari SMA.
Saat itu, seharusnya saya merasa senang karena sudah menyelesaikan pendidikan sekolah. Namun, di balik rasa senang tersebut, ada satu hal yang justru membuat saya merasa bingung: setelah lulus SMA, saya harus melakukan apa?
Bingung Memilih Kuliah atau Bekerja
Saya mulai memikirkan dua pilihan. Apakah saya harus kuliah atau bekerja?
Kalau saya memilih bekerja, saya bingung harus bekerja sebagai apa. Saya merasa belum mempunyai keterampilan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. Sementara itu, kalau saya memilih kuliah, saya juga harus memikirkan keadaan keluarga.
Ibu saya adalah seorang single mother. Saya tahu bahwa ibu sudah berjuang keras untuk keluarga. Karena itu, saya tidak ingin membuat ibu semakin terbebani hanya karena keinginan saya untuk kuliah.
Saya ingin melanjutkan pendidikan, tetapi di sisi lain saya juga ingin belajar mandiri dan membantu keadaan keluarga.
Pada akhirnya, saya memilih untuk sementara waktu tetap berada di rumah sambil mencari jalan terbaik untuk masa depan saya.
Mengenal Diri Saya yang Dulu
Keputusan tersebut sebenarnya juga dipengaruhi oleh sifat saya sejak SMA.
Saya adalah anak yang pendiam.
Saya bukan tipe orang yang mudah berbicara dengan banyak orang. Saya lebih sering memilih untuk diam dan menghabiskan waktu sendirian. Bagi saya saat itu, sendiri terasa lebih aman.
Ketika saya sendirian, saya merasa tidak perlu memikirkan apakah orang lain menyukai saya atau tidak. Saya tidak perlu takut salah bicara. Saya juga tidak perlu khawatir akan dinilai oleh orang lain.
Saya merasa bahwa jika saya sendiri, kemungkinan muncul masalah akan lebih sedikit.
Namun, ternyata kebiasaan tersebut juga membuat saya semakin sulit untuk bersosialisasi.
Rasa Tidak Percaya Diri
Saya sering merasa tidak percaya diri. Saya pernah berpikir bahwa saya tidak pantas mempunyai banyak teman. Saya merasa tidak layak untuk dekat dengan orang lain.
Ketika melihat teman-teman yang mudah bergaul dan mempunyai banyak teman, terkadang saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya tidak bisa seperti mereka?
Saya akhirnya lebih memilih diam.
Walaupun begitu, saya sebenarnya mempunyai satu hal yang membuat saya merasa nyaman, yaitu menggambar.
Menggambar Menjadi Hal yang Saya Sukai
Sejak SMA, menggambar adalah salah satu hobi yang paling saya sukai. Ketika saya menggambar, saya bisa merasa tenang. Saya tidak perlu banyak berbicara dengan orang lain. Saya cukup duduk, memegang pensil, kemudian menuangkan apa yang ada di pikiran saya ke dalam kertas.
Bagi saya, gambar bukan hanya sebuah gambar.
Di dalamnya ada waktu, usaha, kesabaran, dan perasaan.
Saya terus berlatih menggambar. Semakin lama, hasil gambar saya mulai mendapatkan perhatian dari teman-teman dan orang lain. Ada yang memuji hasil gambar saya. Ada yang mengatakan bahwa gambar saya bagus. Bahkan, ada yang merasa kagum dengan kemampuan yang saya miliki.
Hal itu membuat saya mulai menyadari bahwa ternyata saya memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan.
Saya mungkin tidak pandai berbicara.
Saya mungkin tidak percaya diri.
Tetapi saya mempunyai sesuatu yang saya sukai dan bisa saya kerjakan.
Memulai dari Rumah Setelah Lulus SMA
Setelah lulus SMA, saya sebenarnya mempunyai keinginan untuk kuliah di kampus yang berada di sekitar tempat tinggal saya. Namun, setiap kali memikirkan biaya kuliah, saya kembali teringat kepada ibu.
Saya tidak ingin merepotkan ibu.
Akhirnya, saya berpikir untuk menunda kuliah selama satu tahun. Saya ingin mengumpulkan uang terlebih dahulu. Saya berharap, dengan bekerja dari rumah, saya bisa mendapatkan penghasilan dan menabung untuk kuliah di tahun berikutnya.
Mengembangkan Kemampuan Menggambar
Saya kemudian memutuskan untuk lebih serius mengembangkan kemampuan menggambar.
Saya mulai memperbanyak latihan. Saya mencoba memperbaiki teknik, memperhatikan detail, dan belajar membuat gambar yang lebih baik.
Setelah merasa cukup percaya diri, saya mulai membuka jasa gambar.
Saya menerima pesanan dari orang-orang yang membutuhkan gambar. Saya juga membuka jasa untuk orang yang membutuhkan bantuan dalam mengerjakan tugas gambar.
Awalnya, saya tidak terlalu yakin akan mendapatkan banyak pelanggan.
Saya hanya berpikir, jika ada yang memesan, saya akan mengerjakannya dengan sebaik mungkin.
Kemudian datanglah pesanan pertama.
Saya mengerjakan gambar tersebut dengan penuh perhatian. Setelah selesai dan pelanggan menerimanya, saya mendapatkan uang dari hasil pekerjaan saya sendiri.
Perasaan saya saat itu sangat senang.
Mungkin jumlah uangnya tidak besar, tetapi bagi saya, uang tersebut mempunyai arti yang sangat besar.
Saya menyadari bahwa hobi yang selama ini saya lakukan ternyata bisa menghasilkan uang.
Dari Hobi Menjadi Sebuah Mimpi
Dari pengalaman itu, saya mulai berpikir lebih jauh.
Kalau kemampuan menggambar saja bisa menghasilkan sesuatu, mungkin suatu hari saya juga bisa membangun sebuah usaha.
Saya mulai mempunyai dua mimpi.
Pertama, saya ingin menjadi seorang seniman.
Kedua, saya ingin menjadi seorang pebisnis.
Saya membayangkan suatu hari nanti mempunyai bisnis sendiri, mengembangkan usaha, bahkan memiliki bisnis di berbagai tempat.
Namun, saat itu saya belum tahu bagaimana cara mewujudkan semuanya.
Mimpi itu masih terasa jauh.
Saya hanya mempunyai keinginan, tetapi belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup.
Menemukan Kesempatan untuk Melanjutkan Pendidikan
Waktu terus berjalan.
Saya sudah menjalani cukup banyak waktu di rumah. Saya masih menggambar, menerima beberapa pesanan, dan mencoba menabung.
Namun, keinginan untuk kuliah masih ada di dalam hati saya.
Saya mulai kembali bertanya kepada diri sendiri.
“Apakah saya harus terus di rumah?”
“Bagaimana saya bisa kuliah tanpa merepotkan ibu?”
Saya belum menemukan jawabannya.
Sampai suatu sore, ketika saya sedang membuka Instagram, saya menemukan sebuah informasi yang membuat saya berhenti melihat-lihat media sosial.
Saya melihat informasi tentang program kuliah selama satu tahun secara gratis.
Awalnya saya hanya membaca informasi tersebut.
Namun, semakin saya membaca, semakin saya merasa bahwa mungkin ini adalah kesempatan yang saya cari.
Saya mulai merasa bersemangat.
Dalam hati saya berkata,
“Mungkin ini jalan saya untuk bisa kuliah tanpa membebani ibu.”
Saya langsung mengisi formulir pendaftaran.
Setelah mengirimkan formulir tersebut, saya hanya bisa menunggu dan berdoa.
Saya tidak tahu apakah saya akan diterima.
Saya juga tidak ingin terlalu berharap karena takut kecewa.
Mengikuti Wawancara Online
Namun, beberapa waktu kemudian, telepon saya berbunyi.
Saya mendapatkan telepon dari pihak kampus yang meminta saya mengikuti wawancara secara online.
Mendengar hal tersebut, saya langsung merasa gugup.
Saya adalah orang yang jarang berbicara dengan orang lain. Sekarang saya harus berbicara dengan pihak kampus melalui wawancara.
Saya mencoba mempersiapkan diri.
Saya memikirkan pertanyaan apa yang mungkin ditanyakan. Saya mencoba memikirkan jawaban yang tepat. Tetapi ketika wawancara benar-benar dimulai, rasa gugup tetap muncul.
Suara saya terasa bergetar.
Saya berusaha menjawab pertanyaan sebaik mungkin. Saya mencoba tetap tenang meskipun di dalam hati saya merasa sangat takut.
Setelah wawancara selesai, saya merasa lega.
Namun, setelah itu saya justru berpikir bahwa saya mungkin tidak akan lolos.
Saya merasa jawaban saya mungkin kurang bagus.
Saya berkata kepada diri sendiri,
“Sepertinya saya tidak diterima.”
Saya mencoba tidak terlalu berharap.
Kabar yang Tidak Saya Duga
Sekitar satu bulan kemudian, tibalah hari pengumuman.
Saya membuka informasi kelulusan dengan perasaan campur aduk.
Ada rasa penasaran, tetapi juga ada rasa takut.
Saya tidak terlalu yakin akan diterima.
Kemudian saya melihat hasilnya.
Saya diterima.
Saya benar-benar terkejut.
Orang yang sebelumnya merasa tidak percaya diri dan bahkan tidak yakin dengan kemampuan dirinya sendiri ternyata mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Saya merasa sangat bersyukur.
Namun, setelah rasa senang itu muncul, muncul pula rasa takut yang lain.
Takut Menghadapi Lingkungan Baru
Saya mulai memikirkan kehidupan di tempat baru.
Saya harus tinggal di asrama.
Saya harus bertemu banyak orang.
Saya harus mempunyai teman baru.
Saya harus berbicara dengan orang yang belum pernah saya kenal.
Saya bertanya kepada diri sendiri,
“Apakah saya bisa betah di sana?”
“Apakah saya bisa beradaptasi?”
“Apakah saya bisa mendapatkan teman?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus ada di pikiran saya.
Tetapi saya akhirnya memutuskan untuk mencoba.
Saya tidak ingin kesempatan yang sudah diberikan kepada saya hilang hanya karena rasa takut.
Perjalanan Afwa Menuju MEC Surabaya
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Saya berangkat menuju MEC Surabaya dengan ditemani kakak menggunakan kereta api.
Sepanjang perjalanan, saya merasakan banyak hal.
Ada rasa senang karena saya akan memulai kehidupan baru.
Ada rasa penasaran tentang apa yang akan saya pelajari.
Namun, ada juga rasa takut karena saya harus meninggalkan zona nyaman saya.
Selama perjalanan, saya membayangkan bagaimana keadaan tempat yang akan saya tinggali.
Ketika akhirnya sampai di MEC Surabaya, saya melihat banyak orang yang belum saya kenal.
Saya langsung merasa canggung.
Di tengah banyak orang, saya justru lebih banyak diam.
Saya tidak tahu harus mulai berbicara dengan siapa.
Karena terbiasa menyendiri, saya memilih masuk ke kamar asrama.
Saat itu saya kembali merasa seperti Afwa yang dulu.
Afwa yang diam.
Afwa yang malu.
Afwa yang takut berkenalan.
Namun, ternyata kehidupan di MEC perlahan mengubah saya.
Pengalaman Afwa Mengikuti MOPD di MEC Surabaya
Selama kegiatan MOPD yang berlangsung sekitar satu minggu, saya mulai diajak untuk berkenalan dengan banyak orang.
Awalnya saya merasa malu.
Ketika seseorang mengajak berbicara, terkadang saya masih merasa canggung.
Tetapi semakin sering berinteraksi, saya mulai merasa nyaman.
Saya mulai mengetahui nama teman-teman.
Saya mulai mengetahui cerita mereka.
Saya mulai bercanda.
Saya mulai tertawa bersama mereka.
Perlahan-lahan saya mulai menyadari sesuatu.
Ternyata memiliki teman tidak semenakutkan yang selama ini saya bayangkan.
Saya mulai merasa senang.
Belajar Public Speaking, Soft Skill, Hard Skill, dan Entrepreneurship
Di MEC, saya juga mendapatkan banyak pengalaman baru. Saya bertemu dengan para pengisi acara yang memberikan materi tentang public speaking, soft skill, hard skill, entrepreneurship, dan berbagai materi lainnya.
Bagi saya, materi public speaking sangat berarti karena saya adalah orang yang sebelumnya sangat jarang berbicara.
Saya mulai belajar bagaimana menyampaikan sesuatu di depan orang lain.
Saya belajar untuk tidak terlalu takut jika salah.
Saya belajar bahwa kemampuan berbicara bukan hanya tentang seberapa banyak kata yang kita ucapkan, tetapi juga tentang keberanian untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran.
Tantangan Entrepreneur di MEC
Salah satu pengalaman yang paling saya ingat di MEC adalah ketika kami mendapatkan tantangan entrepreneur.
Kami diberikan tantangan untuk berjualan dengan cara mengambil barang dari supplier tanpa membawa uang.
Bagi orang lain mungkin terdengar sederhana.
Namun, bagi saya tantangan itu sangat besar.
Saya harus berani menghubungi orang yang belum saya kenal.
Saya harus menjelaskan maksud saya kepada supplier.
Saya harus meminta kepercayaan.
Saya juga harus mencari calon pembeli dan menawarkan barang kepada mereka.
Semua itu sangat bertolak belakang dengan diri saya ketika SMA.
Dulu saya bahkan takut memulai percakapan.
Sekarang saya harus belajar menawarkan sesuatu kepada orang lain.
Belajar Berani Menghadapi Penolakan
Pada prosesnya, saya sempat merasa ingin menyerah.
Saya merasa tidak mampu.
Saya bertanya kepada diri sendiri,
“Apa saya benar-benar bisa melakukan ini?”
Namun, saya mencoba bertahan.
Saya mulai memahami bahwa menjadi seorang entrepreneur memang membutuhkan keberanian.
Tidak cukup hanya mempunyai keinginan untuk menjadi pebisnis. Kita juga harus berani mencoba, berani ditolak, berani menghadapi kesulitan, dan berani belajar dari kesalahan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran penting bagi saya.
Pengalaman Memilih Jurusan di MEC
Ada satu hal lagi yang cukup membuat saya terkejut ketika masuk MEC, yaitu tentang jurusan.
Sebelumnya saya mendaftar Desain Grafis.
Pilihan tersebut sangat sesuai dengan hobi saya karena sejak SMA saya memang menyukai menggambar. Saya ingin belajar lebih dalam tentang desain dan berharap bisa mengembangkan kemampuan menggambar saya menjadi sesuatu yang lebih profesional.
Namun, ternyata karena adanya kesalahan dalam pilihan jurusan, saya justru masuk ke Bisnis Digital.
Awalnya saya sangat kecewa.
Saya sempat berpikir bahwa saya salah jurusan.
Saya bahkan bertanya-tanya apakah saya bisa mengikuti pelajaran yang ada di dalamnya.
Saya merasa lebih dekat dengan dunia gambar dibandingkan dunia bisnis.
Mengubah Kekecewaan Menjadi Kesempatan
Tetapi setelah saya memikirkannya kembali, saya teringat kepada mimpi saya.
Saya memang ingin menjadi seniman.
Tetapi saya juga ingin menjadi pebisnis.
Selama ini keinginan menjadi pebisnis hanya menjadi angan-angan karena saya tidak tahu bagaimana cara memulainya.
Mungkin justru Bisnis Digital adalah kesempatan yang saya butuhkan.
Saya mulai memahami bahwa bisnis pada zaman sekarang tidak hanya dilakukan secara langsung. Ada banyak cara untuk mengembangkan bisnis melalui teknologi dan internet.
Saya bisa belajar tentang pemasaran digital, bagaimana mempromosikan produk, bagaimana memahami pelanggan, bagaimana membangun sebuah brand, dan bagaimana memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan usaha.
Saya juga menyadari bahwa kemampuan menggambar yang saya miliki tidak harus saya tinggalkan.
Justru kemampuan tersebut bisa saya gabungkan dengan Bisnis Digital.
Saya bisa menggunakan kemampuan desain untuk membuat konten promosi, poster, logo, katalog, dan berbagai kebutuhan visual sebuah bisnis.
Sementara itu, ilmu Bisnis Digital dapat membantu saya memahami bagaimana cara menjual dan memasarkan sesuatu.
Dari sana saya mulai berpikir bahwa mungkin saya tidak salah jalan.
Mungkin jalan saya memang harus melewati tempat yang tidak pernah saya rencanakan.
Saya mulai menerima jurusan tersebut.
Saya mulai mengatakan kepada diri sendiri,
“Tidak apa-apa jika jalannya berbeda. Yang penting saya tetap menuju tujuan.”
Jika saya melihat kembali diri saya ketika SMA, saya merasa banyak hal yang berubah.
Dulu saya takut berbicara.
Dulu saya lebih memilih sendiri.
Dulu saya merasa tidak pantas memiliki teman.
Sekarang saya mulai belajar membuka diri.
Saya mulai mempunyai teman.
Saya mulai berani berbicara.
Saya mulai berani mencoba hal-hal baru.
Saya memang belum sepenuhnya berubah menjadi orang yang sangat percaya diri. Saya masih bisa merasa gugup. Saya masih bisa merasa malu. Tetapi setidaknya sekarang saya tidak membiarkan rasa takut menghentikan langkah saya.
Belajar Percaya Diri
Saya mulai memahami bahwa percaya diri bukan berarti tidak pernah takut.
Percaya diri adalah ketika kita tetap mencoba meskipun sebenarnya kita sedang merasa takut.
MEC memberikan saya kesempatan untuk belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Saya tidak hanya belajar tentang keterampilan.
Saya juga belajar tentang keberanian.
Saya belajar tentang tanggung jawab.
Saya belajar bekerja sama.
Saya belajar berbicara dengan orang lain.
Saya belajar menghadapi masalah.
Dan yang paling penting, saya belajar untuk percaya kepada diri sendiri.
Mimpi Afwa yang Ingin Diwujudkan
Perjalanan saya masih panjang.
Saya masih harus belajar banyak hal.
Saya ingin terus mengembangkan kemampuan menggambar karena menggambar adalah bagian dari diri saya.
Saya juga ingin serius mempelajari Bisnis Digital karena saya ingin mewujudkan mimpi menjadi seorang pebisnis.
Suatu hari nanti, saya ingin mempunyai bisnis sendiri.
Saya ingin membangun usaha yang bisa berkembang.
Saya ingin memiliki beberapa bisnis di berbagai tempat.
Saya juga ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa kemampuan yang saya miliki dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Mengingat Setiap Langkah dalam Perjalanan
Saya tidak tahu bagaimana masa depan saya nantinya.
Mungkin perjalanan saya tidak akan selalu mudah.
Mungkin akan ada kegagalan.
Mungkin akan ada saat ketika saya ingin menyerah.
Namun, saya ingin mengingat semua perjalanan yang sudah saya lalui.
Saya ingin mengingat Afwa yang dulu takut berbicara.
Saya ingin mengingat Afwa yang merasa tidak pantas memiliki teman.
Saya ingin mengingat Afwa yang setelah lulus SMA sempat bingung antara kuliah dan bekerja.
Saya ingin mengingat Afwa yang memulai semuanya dari rumah dengan menggambar.
Saya ingin mengingat bagaimana rasanya mendapatkan uang pertama dari kemampuan sendiri.
Saya ingin mengingat sore ketika saya menemukan informasi tentang kuliah gratis di Instagram.
Saya ingin mengingat rasa gugup ketika wawancara.
Saya ingin mengingat perasaan tidak percaya ketika mengetahui bahwa saya diterima.
Saya ingin mengingat perjalanan kereta menuju Surabaya.
Saya ingin mengingat hari pertama ketika saya merasa sendirian di tengah banyak orang.
Dan saya ingin mengingat bagaimana akhirnya saya mulai mempunyai teman.
Semua itu adalah bagian dari perjalanan saya.
Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Perjalanan Ini
Dulu saya mengira bahwa sendiri adalah tempat paling aman.
Sekarang saya memahami bahwa terkadang kita harus keluar dari tempat yang membuat kita nyaman untuk menemukan kemampuan yang sebenarnya kita miliki.
Dulu saya takut gagal.
Sekarang saya mulai memahami bahwa gagal bukan berarti akhir.
Dulu saya hanya mempunyai mimpi.
Sekarang saya sudah mulai mempunyai tempat untuk belajar mewujudkannya.
Saya tidak tahu apakah semua impian saya akan tercapai persis seperti yang saya bayangkan.
Tetapi saya tidak ingin hanya menjadi orang yang mempunyai mimpi tanpa pernah berusaha.
Saya ingin terus belajar.
Saya ingin terus mencoba.
Saya ingin berani gagal.
Saya ingin bangkit ketika jatuh.
Dan saya ingin terus berjalan meskipun langkah saya masih kecil.
Karena saya percaya, perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil.
Dan bagi saya, langkah itu dimulai ketika saya berani keluar dari rumah, meninggalkan rasa takut, dan datang ke MEC Surabaya.
Tidak Semua Jalan Harus Sesuai Rencana
Mungkin masuk ke Bisnis Digital bukanlah pilihan pertama saya.
Mungkin saya pernah kecewa karena tidak masuk Desain Grafis.
Tetapi sekarang saya mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita pilih.
Terkadang hidup memberikan apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Dan mungkin, Bisnis Digital adalah salah satu jalan yang diberikan kepada saya untuk mendekatkan diri kepada mimpi menjadi seorang pebisnis.
Saya masih Afwa yang suka menggambar.
Saya masih Afwa yang terkadang merasa malu.
Saya masih Afwa yang sedang belajar percaya diri.
Tetapi sekarang saya adalah Afwa yang mau mencoba.
Saya tidak ingin lagi hanya menjadi penonton dalam kehidupan saya sendiri.
Saya ingin menjadi seseorang yang berani mengambil kesempatan.
Karena saya percaya, selama saya mau belajar dan tidak menyerah, mimpi yang dahulu hanya menjadi angan-angan suatu hari nanti bisa berubah menjadi kenyataan.
Penutup: Perjalanan Afwa di MEC Baru Saja Dimulai
Inilah perjalanan saya, Afwa Langlang Buana.
Seorang anak yang dulu lebih suka menyendiri, yang pernah merasa tidak pantas memiliki teman, yang sempat bingung menentukan masa depan setelah lulus SMA, tetapi akhirnya menemukan keberanian untuk melangkah.
Perjalanan ini belum selesai.
Justru, mungkin semuanya baru saja dimulai.